0 Comments

Indrapuri – Sebanyak 115 peserta yang terdiri dari guru dan kepala madrasah (Kamad) se-Rayon 01 Aceh Besar mengikuti Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dengan Pendekatan Deep Learning menuju Madrasah Ramah Anak yang digelar di Aula Kantor Camat Indrapuri, Kamis (4/9/2025).

Acara dibuka langsung oleh Kepala Kankemenag Aceh Besar, H. Saifuddin, S.E., yang menekankan pentingnya inovasi pendidikan yang selaras dengan kebutuhan zaman. “Guru harus menjadi garda terdepan dalam menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya dengan nilai-nilai kasih sayang. Kurikulum berbasis cinta ini adalah jalan untuk membentuk generasi yang berkarakter sekaligus kompetitif,” ungkapnya dalam sambutan.

Ketua MGMP Rayon 01 Aceh Besar, Ruslan, S.Ag., dalam laporan sekaligus sambutannya, mengingatkan kembali sejarah forum MGMP ini. “MGMP Rayon 01 mulai berdiri pada tahun 2018. Saat pandemi COVID-19, kegiatan kita sempat terhenti. Namun alhamdulillah, dengan dukungan banyak pihak, termasuk bantuan dari World Bank, dalam dua tahun terakhir kita dapat kembali aktif menyelenggarakan kegiatan yang bermanfaat bagi guru dan madrasah,” jelasnya.

Sejak awal kegiatan, suasana sudah terasa hangat. Setelah melakukan registrasi dan absensi, peserta menerima sticky notes berbentuk hati dari panitia. Mereka diminta menuliskan satu kata tentang “cinta” lalu menempelkannya pada Love Wall yang disediakan. Salah satu kata kemudian dipilih pemateri untuk dijadikan bahan refleksi.

Materi utama disampaikan oleh Ketua Pokjawas Kabupaten Aceh Besar, Ibu Rosyidah Lubis, S.Ag., M.A. Dengan pendekatan yang komunikatif, beliau memaparkan konsep Kurikulum Berbasis Cinta yang dipadukan dengan pendekatan pembelajaran mendalam. “Guru datang ke madrasah jangan hanya karena kewajiban mengajar, tetapi karena kerinduan untuk bertemu dengan anak-anak didiknya. Jika kita hadir dengan cinta, maka energi positif itu akan menular kepada siswa,” tegasnya.

Dalam penjelasannya, Ibu Rosyidah banyak mengangkat contoh-contoh kasus nyata di lapangan, mulai dari bagaimana cara menegur siswa dengan lembut, bagaimana memberikan apresiasi sederhana yang bermakna, hingga bagaimana membangun suasana kelas yang penuh kasih. Menurutnya, pendidikan yang dilandasi cinta adalah fondasi untuk mewujudkan madrasah ramah anak dan ramah lingkungan.

Sebagai bagian dari materi, beliau juga membagikan contoh format RPP dengan pendekatan pembelajaran mendalam (Deep Learning) yang dapat digunakan guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran. Format tersebut menekankan pentingnya pembelajaran yang bermakna, kontekstual, serta berpihak pada siswa, sekaligus mengintegrasikan nilai cinta ke dalam setiap langkah proses belajar.

Kegiatan berlangsung dari pagi hingga sore dengan rangkaian yang padat. Sesi materi diselingi dengan istirahat, coffee break, makan siang, dan shalat berjamaah. Hingga akhir acara, para peserta tetap antusias menyimak paparan yang disampaikan.

Menjelang penutupan, peserta diminta mengisi Google Form refleksi yang berisi pertanyaan kunci: “Praktik baik apa yang akan Bapak/Ibu lakukan ke depan berkaitan dengan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta?” Formulir ini menjadi wadah bagi guru dan Kamad untuk menuangkan komitmen nyata setelah mengikuti workshop.

Dengan partisipasi 115 peserta, dukungan penuh dari jajaran Kemenag, serta materi inspiratif yang disampaikan, workshop MGMP Rayon 01 Aceh Besar ini dinilai sangat sukses. Forum ini tidak hanya mempererat silaturahmi antar-guru, tetapi juga meneguhkan semangat bersama untuk menghadirkan madrasah yang benar-benar berlandaskan cinta.(AR)

#MadrasahUpdate #MTsN1AcehBesar #MGMP #KurikulumCinta #DeepLearning #MadrasahRamahAnak #Kemenag #GuruMadrasah #AcehBesar #WorkshopGuru #InovasiPendidikan #Pokjawas #GuruHebat #MadrasahHebat #MadrasahBermartabat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *